Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu - Berikut adalah hadist shahih bukhari tentang permulaan wahyu lengkap beserta dengan arabnya. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, dimohon untuk mengoreksi jika ada kesalahan.
Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemahan :
1. Telah
menceritakan kepada kami
Al Humaidi Abdullah
bin Az Zubair
dia berkata, Telah menceritakan kepada
kami Sufyan yang
berkata, bahwa Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata,
telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa
dia pernah mendengar Alqamah bin
Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar
bin Al Khaththab diatas
mimbar berkata; saya
mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung
niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap
orang (tergantung) apa
yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya
karena dunia yang ingin digapainya
atau karena seorang
pere mpuan yang ingin dinikahinya,
maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"
Hadist Tentang Wahyu ke dua :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ
هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ
وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا
قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي
فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ
رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ
الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Terjemahannya :
2. Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah
mengabarkan kepada kami Malik dari
Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu
Kaum Mu'minin, bahwa Al Harits
bin Hisyam bertanya
kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana
caranya wahyu turun
kepada engkau?" Maka
Rasulullah shallallahu'alaihi
wasallam menjawab: "Terkadang
datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara
ini yang paling
berat buatku, lalu
terhenti sehingga aku
dapat mengerti apa
yang disampaikan. Dan terkadang
datang Malaikat menyerupai
seorang laki-laki lalu
berbicara kepadaku maka aku
ikuti apa yang
diucapkannya". Aisyah be rkata:
"Sungguh aku pernah melihat turunnya
wahyu kepada Beliau
shallallahu 'alaihi wasallam
pada suatu hari yang
sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan
keringat."
Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu ke 3
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ
عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ
عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ
لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ
إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ
وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ
إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ
فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ
حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ
قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ
أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي
فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي
فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي
الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ
{ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ }
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى
ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ
لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا
يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ
وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ
الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ
نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ
امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ
الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا
شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ
فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ
فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ
وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا
لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ
قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا
جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ
نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ
الْوَحْيُ
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ
يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا
أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا
الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي
زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى
{ يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ
فَاهْجُرْ }
فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ
وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ
وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ
3. Telah
menceritakan kepada kami
Yahya bin Bukair
berkata, Telah menceritakan
kepada kami dari Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az
Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu'minin-, bahwasanya
dia berkata: "Permulaaan wahyu
yang datang kepada
Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam adalah
dengan mimpi yang
benar dalam tidur.
Dan tidaklah Beliau bermimpi
kecuali datang seperti
cahaya subuh. Kemudian
Beliau dianugerahi kecintaan
untuk menyendiri, lalu Beliau memilih
gua Hiro dan bertahannuts yaitu 'ibadah di malam hari dalam beberapa
waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan
bekal untuk bertahannuts
kembali. Kemudian Beliau
menemui Khadijah
mempersiapkan bekal. Sampai
akhirnya datang Al
Haq saat Beliau
di gua Hiro, Malaikat datang
seraya berkata: "Bacalah?" Beliau
menjawab: "Aku tidak
bisa baca". Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjelaskan: Maka
Malaikat itu memegangku
dan memelukku sangat kuat
kemudian melepaskanku dan
berkata lagi: "Bacalah!" Beliau
menjawab: "Aku tidak bisa
baca". Maka Malaikat
itu memegangku dan memelukku sangat
kuat kemudian melepaskanku dan
berkata lagi: "Bacalah!". Beliau
menjawab: "Aku tidak
bisa baca". Malaikat itu
memegangku kembali dan memelukku untuk
ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku,
dan berkata lagi:
(Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia
Telah menciptakan manusia
dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha Pe murah)." Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam
kembali kepada keluarganya
dengan membawa kalimat wahyu tadi
dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh
seraya berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga hilang
ketakutannya. Lalu Beliau
menceritakan peristiwa yang
terjadi kepada Khadijah: "Aku
mengkhawatirkan
diriku". Maka Khadijah
berkata: "Demi Allah,
Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya,
karena engkau adalah
orang yang menyambung silaturrahim." Khadijah
kemudian mengajak Beliau
untuk bertemu dengan
Waroqoh bin Naufal bin
Asad bin Abdul
'Uzza, putra paman
Khadijah, yang beragama
Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil
dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah.
Saat itu Waroqoh
sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: "Wahai putra
pamanku, dengarkanlah apa
yang akan disampaikan
oleh putra saudaramu ini". Waroqoh
berkata: "Wahai putra
saudaraku, apa yang
sudah kamu alami".
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam menuturkan peristiwa
yang dialaminya. Waroqoh berkata: "Ini
adalah Namus, seperti
yang pernah Allah turunkan
kepada Musa. Duhai seandainya aku
masih muda dan
aku masih hidup
saat kamu nanti
diusir oleh kaummu". Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bertanya: "Apakah aku akan diusir mereka?" Waroqoh menjawab:
"Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti
apa yang kamu bawa
ini kecuali akan
disakiti (dimusuhi). Seandainya
aku ada saat kejadian
itu,
pasti aku akan menolongmu
dengan sekemampuanku". Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya
tersebut karena lebih
dahulu meninggal dunia pada masa
fatroh (kekosongan) wahyu. Ibnu
Syihab berkata; telah
mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa
Jabir bin Abdullah
Al Anshari bertutur
tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ceritakan: "Ketika sedang
berjalan aku mendengar suara
dari langit, aku
memandang ke arahnya
dan ternyata Malaikat
yang pernah datang kepadaku
di gua Hiro,
duduk di atas
kursi antara langit
dan bumi. Aku
pun ketakutan dan pulang,
dan berkata: "Selimuti aku.
Selimuti aku". Maka
Allah Ta'ala menurunkan wahyu:
(Wahai orang yang
berselimut) sampai firman
Allah (dan berhala- berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan." Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih juga oleh Hilal
bin Raddad dari Az Zuhri. Dan Yunus berkata; dan Ma'mar menyepakati bahwa dia
mendapatkannya dari Az Zuhri.
Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu ke 4
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ
قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ
بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى
{ لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ }
قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ
مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا
أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ
شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى
{ لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ
وَقُرْآنَهُ }
قَالَ جَمْعُهُ لَكَ فِي صَدْرِكَ وَتَقْرَأَهُ
{ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ }
قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ
{ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ }
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ
اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَرَأَهُ
4. Telah menceritakan
kepada kami Musa bin Isma'il dia berkata, Telah menceritakan kepada
kami Abu
'Awanah berkata, bahwa
Telah menceritakan kepada
kami Musa bin
Abu Aisyah
berkata, Telah
menceritakan kepada kami
Sa'id bin Jubair
dari Ibnu 'Abbas
tentang firman
Allah Ta'ala: (Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk
(membaca) Al Quran karena hendak
cepat-cepat ingin
(menguasainya)."
Berkata Ibnu 'Abbas:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sangat
kuat keinginannya untuk
menghafalkan apa yang
diturunkan (Al Qur'an)
dan menggerak-gerakkan
kedua bibir Beliau." Berkata Ibnu 'Abbas: "aku akan menggerakkan
kedua bibirku
(untuk membacakannya) kepada
kalian sebagaimana Rasulullah
shallallahu
'alaihi wasallam
melakukannya kepadaku". Berkata
Sa'id: "Dan aku akan menggerakkan
kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian
sebagaimana aku melihat Ibnu
'Abbas
melakukannya. Maka
Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menggerakkan kedua
bibirnya,
Kemudian turunlah firman
Allah Ta'ala: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca)
Al Quran
karena hendak cepat-cepat
(menguasai) nya. Sesungguhnya
atas tanggungan
Kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya".
Maksudnya Allah
mengumpulkannya di dalam
dadamu (untuk dihafalkan)
dan kemudian
kamu membacanya: "Apabila Kami telah
selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya
itu". Maksudnya:
"Dengarkanlah dan diamlah". Kemudian
Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian, sesungguhnya
atas tanggungan Kamilah
penjelasannya. Maksudnya: "Dan
Kewajiban Kamilah untuk
membacakannya" Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak
saat itu bila
Jibril 'Alaihis Salam
datang kepadanya, Beliau mendengarkannya. Dan
bila Jibril
'Alaihis Salam sudah pergi, maka Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam membacakannya (kepada
para sahabat)
sebagaimana Jibril 'Alaihis
Salam membacakannya kepada
Beliau shallallahu
'alaihi wasallam
Hadist Shahih Bukhari Tentang Bab Permulaan Wahyu Beserta Arabnya Lengkap
Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu ke 5
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا
يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ
الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ
النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ
جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ
فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
5. Telah
menceritakan kepada kami
Abdan dia berkata,
telah mengabarkan kepada
kami
Abdullah telah
mengabarkan kepada kami
Yunus dari Az
Zuhri dan dengan
riwayat yang
sama, telah
menceritakan pula kepada
kami Bisyir bin
Muhammad berkata, telah
mengabarkan kepada
kami Abdullah berkata,
telah mengabarkan kepada
kami Yunus dan
Ma'mar dari
Az Zuhri seperti
lainnya berkata, telah
mengabarkan kepada kami
Ubaidullah
bin Abdullah dari Ibnu
'Abbas berkata, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam adalah
manusia yang
paling lembut terutama
pada bulan Ramadlan
ketika malaikat Jibril
'Alaihis
Salam menemuinya,
dan adalah Jibril
'Alaihis Salam mendatanginya
setiap malam di
bulan
Ramadlan, dimana
Jibril 'Alaihis Salam
mengajarkan Al Qur'an.
Sungguh Rasulullah
shallallahu 'alaihi
wasallam jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.
Hadist Shahih Bukhari Tentang Wahyu ke 6
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا
شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ
أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا
تِجَارًا بِالشَّأْمِ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ
قُرَيْشٍ فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِي مَجْلِسِهِ
وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ
فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزْعُمُ
أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ
نَسَبًا فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّي وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ فَاجْعَلُوهُمْ
عِنْدَ ظَهْرِهِ ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ
هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ فَوَاللَّهِ
لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ
عَنْهُ ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ
نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا
الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كَانَ
مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لَا قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ
يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ قَالَ
أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ قَالَ فَهَلْ
يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ
قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ
يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لَا وَنَحْنُ
مِنْهُ فِي مُدَّةٍ لَا نَدْرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا قَالَ وَلَمْ
تُمْكِنِّي كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ
قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ
قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ
يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا
مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ
وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ
سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ
فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا وَسَأَلْتُكَ هَلْ
قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقُلْتُ لَوْ
كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِي
بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ
مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ
قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ
تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ
لَا فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى
النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ
اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ
اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ
يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ أَمْرُ
الْإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً
لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ
الْإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ وَسَأَلْتُكَ هَلْ
يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغْدِرُ
وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ
تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَيَنْهَاكُمْ عَنْ
عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ
وَالْعَفَافِ فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ
قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ لَمْ أَكُنْ
أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ
لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ
ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى فَدَفَعَهُ إِلَى
هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ
الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي
أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ
أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ
الْأَرِيسِيِّينَ وَ
{ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا
وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ
شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ }
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ
الْكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ وَارْتَفَعَتْ الْأَصْوَاتُ
وَأُخْرِجْنَا فَقُلْتُ لِأَصْحَابِي حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ
أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ
فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَيَّ
الْإِسْلَامَ وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ
سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ حِينَ قَدِمَ
إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ فَقَالَ بَعْضُ
بَطَارِقَتِهِ قَدْ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ
وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ
سَأَلُوهُ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ
مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ
قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلَّا الْيَهُودُ فَلَا يُهِمَّنَّكَ
شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ
مِنْ الْيَهُودِ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ أُتِيَ هِرَقْلُ
بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ
هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لَا
فَنَظَرُوا إِلَيْهِ فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ وَسَأَلَهُ عَنْ
الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ يَخْتَتِنُونَ فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مُلْكُ
هَذِهِ الْأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ ثُمَّ كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ
بِرُومِيَةَ وَكَانَ نَظِيرَهُ فِي الْعِلْمِ وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى
حِمْصَ فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ صَاحِبِهِ
يُوَافِقُ رَأْيَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نَبِيٌّ فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ
الرُّومِ فِي دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا
فَغُلِّقَتْ ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ هَلْ لَكُمْ فِي
الْفَلَاحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا
النَّبِيَّ فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الْأَبْوَابِ
فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ
وَأَيِسَ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَيَّ وَقَالَ إِنِّي قُلْتُ
مَقَالَتِي آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ فَقَدْ
رَأَيْتُ فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ
هِرَقْلَ
رَوَاهُ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ وَيُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ
6. Telah
menceritakan kepada kami
Abu Al Yaman
Al Hakam bin
Nafi' dia berkata,
telah
mengabarkan kepada
kami Syu'aib dari
Az Zuhri telah
mengabarkan kepadaku Ubaidullah
bin Abdullah
bin 'Utbah bin
Mas'ud bahwa Abdullah
bin 'Abbas telah
mengabarkan
kepadanya bahwa
Abu Sufyan bin
Harb telah mengabarkan
kepadanya; bahwa Heraclius
menerima rombongan
dagang Quraisy, yang
sedang mengadakan ekspedisi
dagang ke
Negeri Syam pada saat
berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan
Abu Sufyan dan
orang-orang kafir Quraisy.
Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius
atas undangan Heraclius
untuk di diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama
dengan para
pembesar-pembesar Negeri Romawi.
Heraclius berbicara dengan
mereka
melalui penerjemah.
Heraclius berkata; "Siapa
diantara kalian yang
paling dekat hubungan
keluarganya dengan
orang yang mengaku sebagai Nabi
itu?." Abu Sufyan berkata; maka aku
menjawab; "Akulah
yang paling dekat
hubungan kekeluargaannya dengan
dia". Heraclius
berkata; "Dekatkanlah dia
denganku dan juga
sahabat-sahabatnya."
Maka mereka
meletakkan orang-orang
Quraisy berada di
belakang Abu Sufyan.
Lalu Heraclius berkata
melalui penerjemahnya:
"Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki
yang mengaku
sebagai Nabi. Jika
ia berdusta kepadaku
maka kalian harus
mendustakannya."Demi Allah,
kalau bukan rasa
malu akibat tudingan
pendusta yang akan
mereka lontarkan
kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya." Abu
Sufyan berkata; Maka
yang pertama
ditanyakannya kepadaku tentangnya
(Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam)
adalah: "bagaimana kedudukan
nasabnya ditengah-tengah kalian?"
Aku jawab: "Dia
adalah
dari keturunan baik-baik (bangsawan) ".
Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah
mengatakannya sebelum
dia?" Aku jawab:
"Tidak ada". Tanyanya
lagi: "Apakah bapaknya
seorang raja?"
Jawabku: "Bukan".
Apakah yang mengikuti dia
orang-orang yang terpandang
atau orang-orang
yang rendah?" Jawabku:
"Bahkan yang mengikutinya
adalah orang-orang
yang rendah".
Dia bertanya lagi:
"Apakah bertambah pengikutnya
atau berkurang?" Aku
jawab: "Bertambah". Dia
bertanya lagi: "Apakah
ada yang murtad
disebabkan dongkol
terhadap agamanya?" Aku
jawab: "Tidak ada".
Dia bertanya lagi:
"Apakah kalian pernah
mendapatkannya dia
berdusta sebelum dia menyampaikan apa
yang dikatakannya itu?" Aku
jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya
lagi: "Apakah dia
pernah berlaku curang?" Aku jawab:
"Tidak pernah.
Ketika kami bergaul
dengannya, dia tidak
pernah melakukan itu".
Berkata
Abu Sufyan: "Aku
tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi:
"Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab:
"Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan
perang tersebut?" Aku
jawab: "Perang antara
kami dan dia
sangat banyak. Terkadang
dia
mengalahkan kami
terkadang kami yang
mengalahkan dia". Dia
bertanya lagi: "Apa
yang
diperintahkannya kepada
kalian?" Aku jawab:
"Dia menyuruh kami;
'Sembahlah Allah
dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun,
dan tinggalkan apa yang dikatakan
oleh nenek
moyang kalian. ' Dia juga
memerintahkan kami untuk
menegakkan shalat,
menunaikan zakat,
berkata jujur, saling
memaafkan dan menyambung silaturrahim". Maka
Heraclius berkata
kepada penerjemahnya: "Katakan
kepadanya, bahwa aku
telah bertanya
kepadamu tentang
keturunan orang itu,
kamu ceritakan bahwa
orang itu dari
keturunan
bangsawan. Begitu
juga laki-laki itu
dibangkitkan di tengah
keturunan kaumnya. Dan
aku
tanya kepadamu
apakah pernah ada orang sebelumnya
yang mengatakan seperti
yang
dikatakannya, kamu
jawab tidak. Seandainya
dikatakan ada orang
sebelumnya yang
mengatakannya tentu
kuanggap orang ini
meniru orang sebelumnya
yang pernah
mengatakan hal
serupa. Aku tanyakan
juga kepadamu apakah
bapaknya ada yang
dari
keturunan raja,
maka kamu jawab tidak. Aku katakan
seandainya bapaknya dari
keturunan
raja, tentu orang ini
sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu
apakah kalian
pernah mendapatkan dia
berdusta sebelum dia
menyampaikan apa yang
dikatakannya, kamu
menjawabnya tidak. Sungguh
aku memahami, kalau
kepada manusia
saja dia
tidak berani berdusta
apalagi berdusta kepada
Allah. Dan aku
juga telah bertanya
kepadamu, apakah
yang mengikuti dia
orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang
rendah?" Kamu
menjawab orang-orang yang
rendah yang mengikutinya.
Memang mereka
itulah yang
menjadi para pengikut
Rasul. Aku juga
sudah bertanya kepadamu
apakah
bertambah pengikutnya
atau berkurang, kamu
menjawabnya bertambah. Dan
memang
begitulah perkara
iman hingga menjadi
sempurna. Aku juga
sudah bertanya kepadamu
apakah ada yang murtad
disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada.
Dan memang begitulah iman
bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. A ku juga sudah
bertanya kepadamu
apakah dia pernah
berlaku curang, kamu
jawab tidak pernah.
Dan
memang begitulah
para Rasul tidak
mungkin curang. Dan
aku juga sudah
bertanya
kepadamu apa yang
diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian
untuk menyembah
Allah dengan tidak
menyekutukannya dengan sesuatu
apapun, dan
melarang kalian
menyembah berhala, dia
juga memerintahkan kalian
untuk menegakkan
shalat, menunaikan
zakat, berkata jujur,
saling memaafkan dan
menyambung silaturrahim.
Seandainya semua apa yang
kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang
ada di
bawah kakiku ini.
Sungguh aku telah
menduga bahwa dia
tidak ada diantara
kalian
sekarang ini,
seandainya aku tahu
jalan untuk bisa
menemuinya, tentu aku
akan berusaha
keras menemuinya
hingga bila aku
sudah berada di sisinya
pasti aku akan
basuh kedua
kakinya. Kemudian
Heraclius meminta surat
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam yang
dibawa oleh
Dihyah untuk para
Penguasa Negeri Bashrah,
Maka diberikannya surat
itu
kepada Heraclius,
maka dibacanya dan
isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir
rahim. Dari
Muhammad, hamba
Allah dan Rasul-Nya
untuk Heraclius. Penguasa
Romawi, Keselamatan
bagi siapa yang mengikuti
petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan
Islam; masuk
Islamlah kamu, maka
kamu akan selamat,
Allah akan memberi
pahala
kepadamu dua kali. Namun
jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu,
dan: Hai
ahli kitab, marilah
(berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang
tidak ada
perselisihan antara
kami dan kamu,
bahwa tidak kita
sembah kecuali Allah
dan tidak kita
persekutukan dia
dengan sesuatupun dan
tidak (pula) sebagian
kita menjadikan sebagian
yang lain
sebagai Rabb selain
Allah". Jika mereka
berpaling, maka katakanlah
kepada
mereka: "Saksikanlah, bahwa
kami adalah orang-orang
yang berserah diri
(kepada Allah)."
Abu Sufyan
menuturkan: "Setelah Heraclius
menyampaikan apa yang
dikatakannya dan
selesai membaca
surat tersebut, terjadilah
hiruk pikuk dan
suara-suara ribut, sehingga
mengusir kami. Aku
berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia
telah diajak
kepada urusan Anak
Abu Kabsyah. Heraclius
mengkhawatirkan kerajaan
Romawi."Pada masa
itupun aku juga
khawatir bahwa Muhammad
akan berjaya, sampai
akhirnya (perasaan
itu hilang setelah)
Allah memasukkan aku
ke dalam Islam.
Dan adalah
Ibnu An
Nazhur, seorang Pembesar
Iliya' dan Heraclius
adalah seorang uskup
agama
Nashrani, dia
menceritakan bahwa pada
suatu hari ketika
Heraclius mengunjungi Iliya'
dia
sangat gelisah,
berkata sebagian komandan
perangnya: "Sungguh kami
mengingkari
keadaanmu. Selanjutnya
kata Ibnu Nazhhur,
"Heraclius adalah seorang
ahli nujum yang
selalu memperhatikan
perjalanan bintang-bintang. Dia
pernah menjawab pertanyaan
para
pendeta yang
bertanya kepadanya; "Pada
suatu malam ketika
saya mengamati perjalanan
bintang-bintang, saya
melihat raja Khitan telah
lahir, siapakah di
antara ummat ini
yang di
khitan?" Jawab para
pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda
risau karena orang-orang
Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda,
supaya orang-orang
Yahudi di negeri
tersebut di bunuh."
Ketika itu di
hadapakan kepada
Heraclius seorang
utusan raja Bani
Ghasssan untuk menceritakan
perihal Rasulullah
shallallahu 'alaihi
wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan
agar dia
diperiksa, apakah dia
berkhitan ataukah tidak. Seusai
di periksa, ternyata
memang
dia berkhitam. Lalu di
beritahukan orang kepada Heraclius. Heraclius be rtanya kepada orang
tersebut tentang
orang-orang Arab yang
lainnya, di khitankah
mereka ataukah tidak?"
Dia
menjawab; "Orang
Arab itu di
khitan semuanya." Heraclius
berkata; 'inilah raja
ummat,
sesungguhnya dia
telah terlahir." Kemudian
heraclisu berkirim surat
kepada seorang
sahabatnya di
Roma yang ilmunya
setarf dengan Heraclisu
(untuk menceritakan perihal
kelahiran Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam). Sementara itu,
ia meneruskan
perjalanannya ke
negeri Himsha, tetapi
sebelum tiba di
Himsha, balasan surat
dari
sahabatnya itu
telah tiba terlebih
dahulu. Sahabatnya itu
menyetujui pendapat Heraclius
bahwa Muhammad
telah lahir dan
bahwa beliau memang
seorang Nabi. Heraclius
lalu
mengundang para
pembesar Roma supaya
datang ke tempatnya
di Himsha, setelah
semuanya hadir
dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua
pintu.
Kemudian dia
berkata; 'Wahai bangsa rum, maukah
anda semua beroleh kemenangan
dan
kemajuan yang
gilang gemilang, sedangkan kerajaan
tetap utuh di tangan
kita? Kalau mau,
akuilah Muhammad
sebagai Nabi!." Mendengar
ucapan itu, mereka
lari bagaikan keledai
liar, padahal
semua pintu telah
terkunci. Melihat keadaan
yang demikian, Heraclius
jadi
putus harapan
yang mereka akan
beriman (percaya kepada
kenabian Muhammad). Lalu di
perintahkannya semuanya
untuk kembali ke
tempatnya masing-masing seraya
berkata;
"Sesungguhnya saya
mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan
hati anda
semua. Kini saya
telah melihat keteguhan
itu." Lalu mereka
sujud di hadapan
Heraclius dan
mereka senang kepadanya.
Demikianlah akhir kisah
Heraclius. Telah di
riwayatkan oleh Shalih
bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.
0 komentar:
Posting Komentar